- Get link
- X
- Other Apps
A.
PENDAHULUAN
Sejarah berasal dari bahasa arab “syajaratun” artinya
pohon. Dalam dunia barat disebut Histoire (Perancis), Historie(Belanda),
History (Inggris). Berasal dari bahasa Yunani Istoria yang artinya Ilmu. Dalam
pengertian lain, sejarah adalah catatan berbagai peristiwa yang terjadi pada
masa lampau (event in the past).
Peradaban islam adalah terjemahan dari kata arab
al-hadharah al-islamiyah, kata arab ini juga sering diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam, kebudayaan dalam bahasa arab adalah
al-tsaqafah. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu
masyarakat yang lebih banyak direflesikan ke dalam seni, sastra, religi, dan
moral. Sedangkan peradaban manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis yang
direfleksikan dalam politik, ekonomi, dan teknologi.
Dalam Khazanah pemikiran islam yang dianggap sebagai
sumber-sumber pemikiran dan peradaban adalah kitab suci A-Qur’an dan Hadits.
Menurut Terminologi, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah melalui
utusannya Nabi Muhammad SAW yang ajaran-ajarannya terdapat dalam kitab suci
Al-Qur’an dan sunnah untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia agar mendapat
kedamaian , kesejahteraan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Peradaban yang disandarkan dengan Islam
adalah suatu peradaban yang mempunyai kerangka pedoman berdasarkan wahyu yang
dituturkan kepada nabi Muhammad SAW, dengan ajarannya terhimpun dalam Al-Qur’an
dan Sunnah, kemudian sering berkembangnya zaman melahirkan gagasan-gagasan dan
pemikiran islam, secara tradisional jalur pemikiran yang mendorong gerak
peradaban islam adalah dibidang fiqih(hokum), tauhid(teologi), dan tasawuf.
Periode Mekah
Ketika Nabi
Muhammad SAW lahir,mekkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal
diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun letaknya. Kota
ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menggabungkan Yaman di selatan dan
Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah ditengah kota ,Mekah menjadi pusat
keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah, didalamya terdapat 360
berhala mengelilingi berhala utama yaitu Hubal. Mekah kelihatan makmur dan
kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan
masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Pada
tahun 571 M, Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota Mekah. Nabi Muhammad lahir
dari keluarga terhormat yang relatif miskin, Ayahnya Abdullah anak dari Abdul
Muthalib yang seorang kepala suku Quraisy dan Ibunya Aminah binti Wahab dari
Bani Zuhrah. Tahun kelahiran Nabi dikenal dengan nama Tahun Gajah. Dinamakan
demikian, karena pada waktu itu penguasa Yaman datang ke kota Mekah untuk
menghancurkan Ka’bah. Ia bernama Abrahah, Abrahah membawa pasukan yang sangat
banyak dengan menaiki gajah dan setiap pasukannya dilengkapi dengan senjata
yang sangat lengkap. Namun, Allah SWT melindungi Ka’bah dengan mengirimkan
beribu-ribu burung yang membawa batu-batu kecil yang panas. Batu-batu itu
dijatuhkan pada Abrahah dan pasukan gajahnya hancur.
Pada
usia 40 tahun, Muhammad SAW semakin prihatin terhadap krisis moral masyarakat
kota Mekah yang sudah sangat menyimpang dari keluhuran moral. Oleh karena itu,
Muhammad mengasingkan diri di Gua hira berpikir dan selalu merenung tentang
perilaku masyarakat di Mekah. Gua hira letaknya tidak jauh dari kota Mekah,
kurang lebih 6km sebelah timur kota Mekah. Pada tanggal 17 Ramadhan 611 M,
Allah mengutus Malaikat Jibril kehadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu
Allah yang pertama yaitu surah Al-A’laq ayat 1-5. Setelah menerima wahyu itu
Muhammad segera pulang dengan hati cemas dan badan menggigil karena ketakutan, Setelah
tenang, beliau menceritakan peristiwa tersebut kepada istrinya. Khadijah
berusaha menenangkan beliau kemudian pergi menemui Waraqah ibn Naufal(saudara
sepupunya) meninggalkan Muhammad yang tertidur karena kelelahan. Waraqah Ibn
Naufal yang sudah memeluk agama Nasrani itu menceritakan kepada Khadijah bahwa
Muhammad diangkat menjadi Nabi dan yang diutus tersebut merupakan malaikat
Jibril.
Setelah wahyu
pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara
Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira. Pada malam ke 40
pada saat Nabi berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba beliau mendengar suara
“Ya Muhammad,engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu,
beliau segera kembali kerumah dan menyuruh Khadijah menyelimutinya, suara tadi
terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat. Jibril mendatangi nya dan
turunlah wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7. Setelah menerima
wahyu yang kedua ini Muhammad bangkit lalu berkata kepada isterinya, bahwa
Jibril telah menyampaikan perintah Tuhan agar beliau memberi peringatan kepada
umat manusia, dan mengajak mereka supaya beribadah dan patuh hanya kepada-Nya.
Wahyu yang kedua ini menandai penobatan Muhammad sebagai Rasulullah.
A.
Dakwah secara
sembunyi-sembunyi
Dengan turunnya
perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya
secara diam-diam di lingkungan sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Mereka orang yang pertama-tama memeluk agama Islam
baik dari kalangan keluarga terdekat maupun sahabat disebut dengan Assabiqunal Awwalun diantaranya Khadijah binti Walid,
Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, Bilal bin Rabbah,
Usman bin Affan,Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin A’uf, Sa’ad bin Abi Waqqah
dan lain-lain. Rasulullah Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3
tahun. Setelah menerima wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan yaitu
surah Al-Hijr ayat 94, Nabi Muhammad SAW mulai meninggalkan cara berdakwah
dengan sembunyi.
B.
Dakwah
secara terang-terangan
Nabi mulai berdakwah secara terbuka, dakwah nabi disampaikan
di seluruh kalangan dari rakyat jelata, hamba sahaya, hingga bangsawan dan
orang kaya. Pertemuan dengan penduduk Mekkah dilakukan di bukit Safa. Dalam
pertemuan itu Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa ia diutus oleh Allah untuk
mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Dengan seruan secara terbuka itu, Nabi Muhammad dan Islam menjadi
perhatian dan perbincangan di kalangan masyarakat kota Mekkah. Masyarakat
Quraisy beranggapan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw tidak mempunyai dasar
dan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, mereka tidak peduli dan berusaha
menentangnya habis-habisan hingga agama Islam tersebut lenyap dari muka bumi
ini. Selain itu, mereka memulai strategi untuk mengacaukan kegiatan dakwah
Islam dan berusaha menghambat gerak laju perkembangan agama Islam di kota
Mekkah dan masyarakat Arab lainnya.
C.
Hijrah
ke negeri Habasyah
Para tokoh Quraisy
kesal melihat dakwah nabi mengalami perkembangan pesat. Mereka pun mulai
mengancam dan mengganggu nabi beserta para pengikutnya. Melihat pengikutnya
banyak yang disiksa, nabi memerintahkan para pengikutnya untuk mengungsi ke
Habasyah. Pada tahun keenam kenabian sebagian sahabat-sahabat nabi mengungsi ke
Habasyah, setelah itu menyusul rombongan yang berjumlah 102 orang. Mereka pun
melakukan hijrah yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, jumlah mereka
sebanyak 83 orang laki-laki dan 19 wanita.
D.
Berdakwah di Taif
Setiap hari nabi
mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang Quraisy. Mereka tidak
hanya menolak dakwah nabi, tetapi mencela ajaran islam. Oleh karena itu, nabi
berencana pergi ke Taif untuk mencari tempat yang baik untuk berlindung. Disana
beliau juga memperkenalkan Islam pada penduduknya. Peristiwa ini terjadi
tepatnya pada bulan ke-7 tahun ke-5 kenabian. Rupanya rencana ini telah tercium
oleh orang-orang kafir Quraisy. Beberapa orang memberitahukan pada penduduk
Taif bahwa Muhammad akan mengenalkan ajaran baru pada mereka. Karena itu,
ketika nabi sampai di Taif, beliau ditolak bahkan diusir dan mereka
memperolok-olok nabi.
Nabi berlindung di
kebun milik dua orang yang bernama Syaibah dan ‘Utbah bin Rabi’ah. Jibril
melihat apa yang dialami nabi, ia bersedih campur marah dan selanjutnya Jibril
menawarkan nabi untuk menjatuhkan dua gunung kepada penduduk Taif. Namun, nabi
meolak tawaran tersebut. Beliau berkata “biarkanlah
mereka. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Berilah mereka petunjuk ya Allah.
Semoga mereka menyembah Allah dsn tifak menyekutukan-Nya dengan apapun”.
E.
Pemboikotan
Kegagalan masyarakat kafir
Quraisy dalam membujuk Nabi Muhammad saw untuk meninggalkan dakwahnya justru
memperkuat posisi umat Islam di kota Mekkah. Menguatnya posisi umat Islam
memperkeras reaksi kaum kafir Quraisy. Mereka mencoba menempuh cara-cara baru,
yaitu melumpuhkan kekuatan Nabi Muhammad Saw yang bersandar pada perlindungan
keluarga Bani Hasyim. Caranya adalah memboikot mereka dengan memutuskan segala
bentuk hubungan dengan Bani Hasyim. Persetujuan itu dibuat dalam bentuk piagam
dan ditandatangani bersama serta disimpan di dalam Ka’bah. Pemboikotan ini
berlangsung selama lebih kurang tiga tahun, yang dimulai pada bulan Muharram
tahun ketujuh kenabian, bertepatan dengan tahun 616 M. Di anatar isi piagam
pemboikotan ini adalah sebagai berikut :
·
Mereka
tidak akan menikahi orang-orang Islam
·
Mereka
tidak akan menerima permintaan nikah dari orang-orang Islam
·
Mereka
tidak akan berjual beli apa saja dengan orang-orang Islam
·
Mereka
tidak akan berbicara dan tidak akan menjenguk orang-orang Islam yang sakit
· Mereka
tidak akan menerima permintaan damai dengan orang-orang Islam, sehingga mereka
menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.
Akibat pemboikotan tersebut,
Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang tiada
bandingnya. Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy
merasa iba dengan penderitaan yang dialami Bani Hasyim dan umat Islam. Akhirnya
mereka merobek isi piagam tersebut dan memusnahkannya. Dengan perobekan itu,
otomatis pemnboikotan itu berakhir. F. Tahun kesedihan dan
Isra Mi’raj
Setelah pemboikotan
berakhir, yaitu tahun kesepuluh kenabian Muhammad SAW, paman nabi Abu Thalib
dan istri nabi Khadijah meninggal dunia. Padahal mereka berdua adalah pelindung
dan penyokong dakwah nabi. Karena itu, nabi sangat bersedih. Walaupun demikian
nabi tetap bersabar dan bertwakal, kemudiaan Allah menghibur nabi Muhammad
dengan mengundang beliau melalui Isra Mi’raj. Isra adalah perjalanan nabi dari
masjidil haram di Mekah ke masjidhil Aqsha di Palestina. Sesampainya di
Masjidil Aqsha nabi melakukan shalat berjamaah bersama para rasul melalui alam
arwah. Setelah itu, nabi dinaikan oleh Allah ke langit hingga sidratul muntaha.
Disana nabi bertemu dengan Allah dan menerima perintah salat lima waktu.
Menjelang pagi telah
kembali dan berada di Mekah, beliau menceritakan pengalaman Isra Mi’raj kepada
penduduk Mekah. Mendengar cerita nabi, orang-orang kafir mencemooh beliau. Nabi
dianggap sebagai pembual atau orang gila. Semua yang mendengarkan meminta nabi
untuk membuktikan ucapannya. Nabi mempertanggungjawabkan ceritanya, beliau
menerangkan tentang posisi Baitul Maqdis dan sekitarnya kepada orang-orang
dengan jelas. Beliau juga meberikan kabar tentang rombongan dagang Quraisy yang
sedang berada dalam perjalanan menuju pulang. Sebagian orang-orang kafir yang
mendengarkan penjelasan nabi ada yang percaya dan ada yang tidak.
Selama
lebih kurang 13 tahun, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekah, akan tetapi yang
beriman di antara mereka hanya sebagian kecil saja. Mereka yang masih tetap
pada kemusyrikan selalu mengganggu jalannya dakwah Islam dengan beragam cara,
maka Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk hijrah ke Madinah.
Periode Madinah
A.
Hijrah ke Yatsrib
Setelah mendapat
perintah hijrah dari Allah SWT, Rasulullah menemui sahabatnya Abu Bakar agar
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan. Nabi juga
menemui Ali dan meminta kepadanya agar tidur di kamarnya guna mengelabui musuh
yang berencana membunuhnya. Senin malam Selasa itu, nabi ditemani Abu Bakar dalam
perjalanan munuju Yastrib. Keduanya singgah di Gua Tsur, arah selatan Mekah
untuk menghindar dari pengejaran orang kafir Quraisy. Mereka bersembunyi selama
tiga malam dan putera putri Abu Bakar, Abdullah, Aisyah, dan Ama’ serta
sahayanya Amir bin Fuhairah mengirim makanan setiap malam kepada mereka dan
menyampaikan kabar pergunjingan orang Mekah tentang Rasulullah.
Pada malam ketiga,
mereka keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan perjalanan menuju Yastrib
bergerak ke arah barat menuju laut merah melewati jalan yang tidak biasa
dilewati qabilah dagang ketika itu. Setelah tujuh hari dalam perjalanan, Nabi
Muhammad SAW dan abu Bakar sampai di Quba. Ketika di Quba, sebuah desa yang
jaraknya sekitar 10km dari Yastrib, nabi istirahat beberapa hari lamanya. Ia
menginap di rumah Kalsum bin Hindun.
Dihalaman rumah ini,
nabi membangun sebuah masjid untuk pertama kalinya dan dikenal dengan Masjid
Quba. Tak lama kemudian Ali menggabungkan diri dengan nabi setelah
menyelesaikan segala urusannya di Mekah. Pada hari Jumat 12 Rabiul Awwal 13
kenabian/ 24 September 622 M, nabi meninggalkan Quba. Ditengah perjalanan di
perkampungan Bani Salim, nabi melaksanakan shalat jumat pertama di dalam
sejarah Islam. Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan menuju Yastrib dan disambut
oleh Bani Najjar.
Peristiwa
hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah merupakan kehendak dan perintah
Allah Swt dengan tujuan agar penyebaran agama islam yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw menjadi lebih pesat lagi. Selama 13 tahun Rasulullah berdakwa ajaran
Islam di mekkah, Nabi Muhammad telah banyak mengalami pertentangan dan
permusuhan. Namun Madinah merupakan kota yang penduduknya lebih mudah menerima
ajaran Rasulullah dari pada penduduk Mekkah. Masyarakat Madinah menyambut
kedatangan Nabi Muhammmad dengan suka cita, orang-orang Madinah
berbondong-bondong memeluk Islam. Oleh karena itu islam lebih cepat berkembang
di madinah.
B.
Pembentukan Sistem
Sosial Kemasyarakatan
Peradaban atau kebudayaan
pada masa Rasulullah Saw, yang paling dahsyat adalah perubahan social. Suatu
perubahan mendasar dari masa kebobrokan moral menuju moralitas yang beradab.
Dalam tulisan Ahmad Al-Husairy, diuraikan bahwa peradaban pada masa Nabi
dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh Muhammad di bawah
bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut.
-
Pembangunan Masjid Nabawi
Dikisahkan
bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti disuatu tempat maka Rasulullah
memerintahkan agar di tempat itu dibangun sebuah masjid. Rasulullah ikut serta
dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan batu-batu
masjid itu dengan tangannya sendiri. Saat itu, kiblat dihadapkan ke Baitul Maqdis.
Tiang masjid terbuat dari batang kurma, sedangkan atapnya dibuat dari pelepah
daun kurma. Adapun kamar-kamar istri beliau dibuat di samping masjid. Tatkala
pembangunan selesai, Rasulullah memasuki pernikahan dengan Aisyah pada bulan
Syawal. Sejak saat itulah, Yastrib dikenal dengan Madinatur Rasul atau Madinah
Al-Munawwarah. Kaum muslimin melakukan berbagai aktivitasnya di dalam masjid
ini, baik beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupun
perayaan-perayaan. Tempat ini menjadi factor yang mempersatukan mereka.
- Persaudaraan
antara Kaum Muhajirin dan Anshar.
Dalam Negara
islam yang baru dibangun itu, Nabi meletakan dasar-dasarnya untuk menata
kehidupan sosial dan politik. Dikukuhkannya ikatan persaudaraan
(UkhwahIslamiyah) antara golongan Anshar dan Muhajirin, dan mempersatukan suku
Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan dan bersaing. Ikatan persaudaraan
Anshar dan Muhajirin melebihi ikatan persaudaraan karena pertalian darah, sebab
ikatannya berdasar iman. Terbukti apa yang dimiliki Anshar disediakan penuh
untuk saudaranya Muhajirin. Rasulullah mempersaudarakan di antara kaum
muslimin. Mereka kemudian membagikan rumah yang mereka miliki, bahkan juga
istri-istri dan harta mereka. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat daripada
hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan. Dengan persaudaraan ini,
Rasulullah telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai
pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.
-
Kesepakatan
untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan non Muslimin
Di Madinah,
ada tiga golongan manusia, yaitu kaum muslimin, orang-orang arab, serta kaum
non muslim, dan orang-orang yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa’).
Rasulullah melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah
keamanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu
dan toleransi diantara golongan tersebut.
-
Peletakan
Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial
Islam adalah
agama dan sudah sepantasnya jika di dalam negara diletakkan dasar-dasar Islam
maka turunlah ayat-ayat Alquran pada periode ini untuk membangun legalitas dari
sisi- sisi tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dengan perkataan dan
tindakannya. Hidupla kota Madinah dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh
dengan nilai-nilai utama. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh, ada
solidaritas yang erat diantara anggota masyarakatnya. Dengan demikian bahwa
inilah masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah dengan asas-asasnya
yang abadi.
Bidang Politik,
untuk menyelaraskan hubungan antara tiga kelompok itu, Nabi Saw mengadakan
perjanjian dalam piagam yang disebut Konstitusi Madinah. Piagam ini berlaku
bagi seluruh pendudukan Yatsrib, baik orang muslim maupun non muslim (Yahudi).
Piagam inilah yang oleh Ibnu Hasyim disebut sebagai Undang-undang Dasar Negara
Islam (DaulahIslamiyah) yang isinya anatara lain: Pertama, Semua kelompok yang mendatangani piagam merupakan suatu
bangsa. Kedua, bila salah satu
kelompok diserang musuh, maka kelompok lain wajib untuk membelanya. Ketiga, masing-masing kelompok tidak
dibenarkan membuat perjanjian dalam bentuk apapun dengan orang kafir Quraisy. Keempat, masing-masing kelompok bebas
menjalankan ajaran agamanya tanpa campur tangan kelompok lain. Kelima, kewajiban penduduk Madinah baik
kaum Muslimin, non-Muslim ataupun bangsa Yahudi saling bantu--membantu moril
dan materil. Keenam, Nabi Muhammad
adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah dan dia menyelesaikan masalah yang
timbul anatar kelompok.
Berdasarkan konstitusi diatas,
dapat diketahui bahwa nabi telah membentuk Negara Islam di Madinah dan
Rasulullah menjadi kepala pemerintahannya yang mempunyai otoritas untuk
menyelesaikan segala masalah yang timbul berdasarkan konstitusi. Oleh karena
itu di Madinah, Nabi Muhammad mempunyai kedudukan bukan saja sebagai Rasul
tetapi juga sebagai kepala negara.
Pesatnya
perkembangan Islam di Madinah, mendorong pemimpin Quraisy Mekah dan musuh-musuh
Islam lainnya meningkatkan permusuhan mereka terhadap Islam. Untuk
mengantisipasi kemungkinan gangguan dari musuh, Nabi sebagai kepala Negara
mengatur siasat dan membentuk pasukan perang. Umat Islam pun pada tahun ke-2
Hijriah telah diizinkan berperang dengan dua alasan,yaitu untuk memperthankan
diri dan melindungi hak miliknya dan menjaga keselamatan dalam penyebaran Islam
dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.
C.
Perang Badar
Perang ini terjadi pada
bulan Ramadhan 2 H(624 M), di dekat sebuah sumur milik Badar. Sebab utamanya
adalah untuk memenuhi tekad kafir Quraisy membunuh nabi yang berhasil
meloloskan diri ke Madinah dan menghukum orang yang melindunginya. Sebab secara
khusus, karena adanya berita lewat mata-mata bahwa kabilah dagang yang dipimpin
Abu Sofyan yang kembali dari Syam akan dicegat oleh umat Islam di Madinah,
sehingga Abu Sofyan mengambil jalan lain hingga selamat sampai di Mekah.
Dalam
perang ini, pasukan kaum muslimin
sebanyak 314 orang berhasil mengalahkan kaum Quraisy dengan pasukan 1000 orang
di bawah pimpinan Abu Jahal. Dipihak Islam gugur 14 orang dan di pihak musuh
gugur 70 orang termasuk Abu Jahal. Perang ini sanagat menentukan bagi umat
Islam, bantuan Allah datang dengan menurunkan malaikat-malaikat(Surah Ali-Imran
ayat 122, Al-Anfal ayat 9-12, 17 dan 43-44).
D.
Perang Uhud
Perang uhud terjadi
pada tahun 3 H(625 M), penyebabnya karena kekalahan kaum Quraisy dalam perang
Badar merupakan pukulan berat, mereka bersumpah akan melakukan pembalasan.
Pemimpin Abu Sofyan memobilisasi 3000 prajurit dan pasukan Nabi sebanyak 700
pasukan. Dalam perang ini, pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan karena
adanya penghianatan dan prajurit Islam memungut harta rampasan perang tanpa
menghiraukan gerakan musuh.
E.
Perang Ahzab/Khandaq
Perang Ahzab terjadi
pada bulan Syawal 5 H(627 M) di pihak musuh membentuk pasukan gabungan yang
terdiri dari orang-orang Quraisy, suku Yahudi yang mengungsi ke Khaibar, dan
beberapa suku arab lainnya. Mereka berjumlah 10.000 tentara di bawah pimpinan
Abu Sofyan. Menghadapi pasukan sebanyak itu, nabi memutuskan untuk bertahan.
Setelah mendengar usul Salman Al-Farisi agar umat Islam bertahan dengan
menggali parit (Khandaq) terutama dibagian utara kota. Itulah sebabnya perang
ini selain disebut perang Ahzab(pasukan sekutu) juga perang Khandaq(parit).
Taktik nabi itu membawa hasil, pasukan musuh tidak dapat menyebrangi parit.
Namun, mereka mengepung Madinah dengan mendirikan kemah-kemah di luar parit
hamper sebulan lamanya. Dalam masa kritis itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizah
di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad berkhianat. Karena, mereka yang ditugasi nabi
mempertahankan garis belakang bergabung dengan Yahudi akan memukul umat Islam
hal itu membuat umat Islam semakin terjepit.
Apalagi
mereka mengalami kesulitan yang amat dahsyat, menderita kelaparan, sehingga
terpaksa mengikatkan batu ke perut mereka. Namun dalam kesulitan yang sempat
menggoncangkan jiwa mereka itu, pertolongan Allah datang. Angin dan badai yang
amat kencang turun merusak dan menerbangkan kemah-kemah mereka, dan menebarkan
debu yang membuat mereka susah melihat. Mereka terpaksa kembali ke negeri
masing-masing tanpa hasil. Sementara itu, penghianat—penghianat Yahudi Bani
Quraizah dijatuhi hukuman mati sebanyak 700 orang.
F.
Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian hudaibiyah
pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan nabi memimpin 1000 kaum
muslimin berangkat ke Mekah untuk melakukan ibadah umrah. Sebelum tiba, mereka
berkemah di Hudaibiyah(beberapa kilometer dari Mekah). Penduduk Mekah tidak
mengizinkan mereka masuk kota apapun alasannya. Mereka mengutus Suhail bin Amr
menemui nabi dan meminta agar umrah ditunda tahun depan. Permintaan itu
diterima nabi, akhirnya diadakanlah perjanjian yang dikenal dengan nama
Perjanjian Hudaibiyah yang isinya :
Kaum muslimin belum boleh mengunjungi
Ka’bah tahun ini, tetapi ditunda sampai tahun depan.
-
Orang kafir Mekah yang ingin masuk Islam
tanpa izin walinya harus ditolak umat Islam
-
Orang Islam yang ingin kembali ke Mekah(murtad)
tidak boleh ditolak orang Quraisy
-
Gencatan senjata antara kedua belah
pihak selama 10 tahun.
G.
Penaklukan kota Mekah
Dua tahun setelah
terjadi perjanjian Hudaibiyah, ternyata dilanggar oleh kaum Quraisy. Pada tahun
8 H mereka membantu sekutunya Bani Bakr yang berperang dengan Bani Khuza’ah
sekutu umat Islam. Nabi menegur Abu Sofyan tentang bantuan yang mereka berikan
kepada Bani BAkr. Dijawab Abu Sofyan bahwa perjanjian Hudaibiyah telah mereka
batalkan. Oleh karena mereka telah membatalkan perjanjian secara sepihak, maka
nabi bersama 10.000 pasukan bertolak ke Mekah untuk melawan mereka. Menjelang
sampai di Mekah pasukan Islam berkemah di pinggiran kota Mekah. Abu Sofyan,
pemimpin Qurasiy dan anaknya Muawiyah menyatakan diri masuk Islam.
Dengan demikian
pemimpin-pemimpin Quraisy sudah semuanya masuk Islam menjelang penaklukan kota
Mekah, maka pasukan Islam memasuki kota mekah tanpa perlawanan sama
sekali.Berhala-berhala yang selama ini ada di Ka’bah berjumlah 360 mereka
hancurkan . Setelah itu nabi berkhutbah menjanjikan ampunan Tuhan terhadap
kafir Quraisy. Kemudian mereka dating berbondong—bondong memeluk agama Islam.
Dengan takluknya kota Mekah, maka patahlah sudah perlawanan orang Quraisy
terhadap orang Islam sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Nashr.
H.
Haji Wada’
Setelah tercipta ketenangan di
seluruh jazirah Arab, Rasulullah bermaksud menunaikan haji ke Baitullah. Pada
tanggal 25 Dzu al-Qa’dah 10 H, beliau bersama-sama dengan sekitar 100.000
sahabatnya berangkat meninggalkan Madinah menuju Mekah. Pada tanggal 8 Dzu
al-Hijjah yang disebut hari Tarwiyah Rasulullah bersama rombongannya berangkat
menuju Mina dan pada waktu fajar hari berikutnya mereka berangkat ke Arafah. Tepat tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat
penting, yang dikenal dengan khuthbah al-wada’I (pidato
perpisahan).
Beliau menyampaikan amanat dari
atas punggung unta dan meminta Tabi’ah ibn Umayyah ibn Khalaf untuk mengulang
dengan keras setiap kalimat yang beliau ucapkan. Pada setiap kalimat yang
beliau ucapkan, haus didengar oleh setiap orang dan wajib disampaikan kepada
orang-orang yang berada di tempat yang jauh. Pidato Rasulullah itu amat
penting, karena mengandung pesan yang amat berharga untuk pedoman hidup
manusia, baik yang berkaitan dengan hubungan antar manusia maupun hubungan
manusia dengan Penciptanya.
I.
Nabi Wafat
Tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji, Rasulullah mendertia
sakit selama 14 hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan beliau
mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H, Rasulullah
mengembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun di rumah Aisyah.
KESIMPULAN
Pada
tanggal 17 Ramadhan 611 M, Allah mengutus Malaikat Jibril kehadapan Nabi
Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surah Al-A’laq ayat
1-5. Setelah wahyu pertama itu
datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad
menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira. Pada malam ke 40 pada saat Nabi
berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba beliau mendengar suara “Ya
Muhammad,engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu,
beliau segera kembali kerumah dan menyuruh Khadijah menyelimutinya, suara tadi
terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat. Jibril mendatangi nya dan
turunlah wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7. Setelah menerima
wahyu yang kedua ini Muhammad bangkit lalu berkata kepada isterinya, bahwa
Jibril telah menyampaikan perintah Tuhan agar beliau memberi peringatan kepada
umat manusia, dan mengajak mereka supaya beribadah dan patuh hanya kepada-Nya.
Wahyu yang kedua ini menandai penobatan Muhammad sebagai Rasulullah. Rasulullah
memulai dakwah di mekah secara sembunyi-sembunyi kemudian terang-terangan.
Peristiwa
hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah merupakan kehendak dan perintah
Allah Swt dengan tujuan agar penyebaran agama islam yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw menjadi lebih pesat lagi. Selama 13 tahun Rasulullah berdakwa
ajaran Islam di mekkah, Nabi Muhammad telah banyak mengalami pertentangan dan
permusuhan. Namun Madinah merupakan kota yang penduduknya lebih mudah menerima
ajaran Rasulullah dari pada penduduk Mekkah. Masyarakat Madinah menyambut
kedatangan Nabi Muhammmad dengan suka cita, orang-orang Madinah
berbondong-bondong memeluk Islam. Oleh karena itu islam lebih cepat berkembang
di madinah.
Pada tanggal 25 Dzu al-Qa’dah
10 H, beliau bersama-sama dengan sekitar 100.000 sahabatnya berangkat
meninggalkan Madinah menuju Mekah. Pada tanggal 8 Dzu al-Hijjah yang disebut
hari Tarwiyah Rasulullah bersama rombongannya berangkat menuju Mina dan pada
waktu fajar hari berikutnya mereka berangkat ke Arafah. Tepat tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat
penting, yang dikenal dengan khuthbah al-wada’I (pidato
perpisahan).
Tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji, Rasulullah mendertia
sakit selama 14 hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan beliau
mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H, Rasulullah
mengembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun di rumah Aisyah.
DAFTAR PUSTAKA
Zulkifli. Sejarah Peradaban Islam. 2017. Tangerang
: UWAN
Latief,M Sanusi. Sejarah dan kebudayaan Islam 2. 2003.
Jakarta : PT. Pustaka Al Husna Baru
Yatrim,Badri. Sejarah Peradaban Islam. 2007. Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada
Syalabi,
A. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Terj. Mukhtar Yahya, dkk.
Jilid I. 1994. Jakarta: Pustaka al-Husna
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment