Sejarah Peradaban Pada Masa Nabi Muhammad SAW



A.    PENDAHULUAN

Sejarah berasal dari bahasa arab “syajaratun” artinya pohon. Dalam dunia barat disebut Histoire (Perancis), Historie(Belanda), History (Inggris). Berasal dari bahasa Yunani Istoria yang artinya Ilmu. Dalam pengertian lain, sejarah adalah catatan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau (event in the past).
Peradaban islam adalah terjemahan dari kata arab al-hadharah al-islamiyah, kata arab ini juga sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam, kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-tsaqafah. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat yang lebih banyak direflesikan ke dalam seni, sastra, religi, dan moral. Sedangkan peradaban manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis yang direfleksikan dalam politik, ekonomi, dan teknologi.
Dalam Khazanah pemikiran islam yang dianggap sebagai sumber-sumber pemikiran dan peradaban adalah kitab suci A-Qur’an dan Hadits. Menurut Terminologi, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah melalui utusannya Nabi Muhammad SAW yang ajaran-ajarannya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an dan sunnah untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia agar mendapat kedamaian , kesejahteraan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Peradaban yang disandarkan dengan Islam adalah suatu peradaban yang mempunyai kerangka pedoman berdasarkan wahyu yang dituturkan kepada nabi Muhammad SAW, dengan ajarannya terhimpun dalam Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian sering berkembangnya zaman melahirkan gagasan-gagasan dan pemikiran islam, secara tradisional jalur pemikiran yang mendorong gerak peradaban islam adalah dibidang fiqih(hokum), tauhid(teologi), dan tasawuf.


Periode Mekah

Ketika Nabi Muhammad SAW lahir,mekkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menggabungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah ditengah kota ,Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah, didalamya terdapat 360 berhala mengelilingi berhala utama yaitu Hubal. Mekah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Pada tahun 571 M, Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota Mekah. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin, Ayahnya Abdullah anak dari Abdul Muthalib yang seorang kepala suku Quraisy dan Ibunya Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran Nabi dikenal dengan nama Tahun Gajah. Dinamakan demikian, karena pada waktu itu penguasa Yaman datang ke kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia bernama Abrahah, Abrahah membawa pasukan yang sangat banyak dengan menaiki gajah dan setiap pasukannya dilengkapi dengan senjata yang sangat lengkap. Namun, Allah SWT melindungi Ka’bah dengan mengirimkan beribu-ribu burung yang membawa batu-batu kecil yang panas. Batu-batu itu dijatuhkan pada Abrahah dan pasukan gajahnya hancur.
Pada usia 40 tahun, Muhammad SAW semakin prihatin terhadap krisis moral masyarakat kota Mekah yang sudah sangat menyimpang dari keluhuran moral. Oleh karena itu, Muhammad mengasingkan diri di Gua hira berpikir dan selalu merenung tentang perilaku masyarakat di Mekah. Gua hira letaknya tidak jauh dari kota Mekah, kurang lebih 6km sebelah timur kota Mekah. Pada tanggal 17 Ramadhan 611 M, Allah mengutus Malaikat Jibril kehadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surah Al-A’laq ayat 1-5. Setelah menerima wahyu itu Muhammad segera pulang dengan hati cemas dan badan menggigil karena ketakutan, Setelah tenang, beliau menceritakan peristiwa tersebut kepada istrinya. Khadijah berusaha menenangkan beliau kemudian pergi menemui Waraqah ibn Naufal(saudara sepupunya) meninggalkan Muhammad yang tertidur karena kelelahan. Waraqah Ibn Naufal yang sudah memeluk agama Nasrani itu menceritakan kepada Khadijah bahwa Muhammad diangkat menjadi Nabi dan yang diutus tersebut merupakan malaikat Jibril.
   Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira. Pada malam ke 40 pada saat Nabi berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba beliau mendengar suara “Ya Muhammad,engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu, beliau segera kembali kerumah dan menyuruh Khadijah menyelimutinya, suara tadi terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat. Jibril mendatangi nya dan turunlah wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7. Setelah menerima wahyu yang kedua ini Muhammad bangkit lalu berkata kepada isterinya, bahwa Jibril telah menyampaikan perintah Tuhan agar beliau memberi peringatan kepada umat manusia, dan mengajak mereka supaya beribadah dan patuh hanya kepada-Nya. Wahyu yang kedua ini menandai penobatan Muhammad sebagai Rasulullah.

      A.    Dakwah secara sembunyi-sembunyi

Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Mereka orang yang pertama-tama memeluk agama Islam baik dari kalangan keluarga terdekat maupun sahabat disebut dengan Assabiqunal Awwalun diantaranya Khadijah binti Walid, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, Bilal bin Rabbah, Usman bin Affan,Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin A’uf, Sa’ad bin Abi Waqqah dan lain-lain. Rasulullah Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Setelah menerima wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan yaitu surah Al-Hijr ayat 94, Nabi Muhammad SAW mulai meninggalkan cara berdakwah dengan sembunyi.

      B.     Dakwah secara terang-terangan

Nabi mulai berdakwah secara terbuka, dakwah nabi disampaikan di seluruh kalangan dari rakyat jelata, hamba sahaya, hingga bangsawan dan orang kaya. Pertemuan dengan penduduk Mekkah dilakukan di bukit Safa. Dalam pertemuan itu Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa ia diutus oleh Allah untuk mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Dengan seruan secara terbuka itu, Nabi Muhammad dan Islam menjadi perhatian dan perbincangan di kalangan masyarakat kota Mekkah. Masyarakat Quraisy beranggapan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw tidak mempunyai dasar dan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, mereka tidak peduli dan berusaha menentangnya habis-habisan hingga agama Islam tersebut lenyap dari muka bumi ini. Selain itu, mereka memulai strategi untuk mengacaukan kegiatan dakwah Islam dan berusaha menghambat gerak laju perkembangan agama Islam di kota Mekkah dan masyarakat Arab lainnya.

      C.    Hijrah ke negeri Habasyah

Para tokoh Quraisy kesal melihat dakwah nabi mengalami perkembangan pesat. Mereka pun mulai mengancam dan mengganggu nabi beserta para pengikutnya. Melihat pengikutnya banyak yang disiksa, nabi memerintahkan para pengikutnya untuk mengungsi ke Habasyah. Pada tahun keenam kenabian sebagian sahabat-sahabat nabi mengungsi ke Habasyah, setelah itu menyusul rombongan yang berjumlah 102 orang. Mereka pun melakukan hijrah yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, jumlah mereka sebanyak 83 orang laki-laki dan 19 wanita.

      D.    Berdakwah di Taif

Setiap hari nabi mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang Quraisy. Mereka tidak hanya menolak dakwah nabi, tetapi mencela ajaran islam. Oleh karena itu, nabi berencana pergi ke Taif untuk mencari tempat yang baik untuk berlindung. Disana beliau juga memperkenalkan Islam pada penduduknya. Peristiwa ini terjadi tepatnya pada bulan ke-7 tahun ke-5 kenabian. Rupanya rencana ini telah tercium oleh orang-orang kafir Quraisy. Beberapa orang memberitahukan pada penduduk Taif bahwa Muhammad akan mengenalkan ajaran baru pada mereka. Karena itu, ketika nabi sampai di Taif, beliau ditolak bahkan diusir dan mereka memperolok-olok nabi.
Nabi berlindung di kebun milik dua orang yang bernama Syaibah dan ‘Utbah bin Rabi’ah. Jibril melihat apa yang dialami nabi, ia bersedih campur marah dan selanjutnya Jibril menawarkan nabi untuk menjatuhkan dua gunung kepada penduduk Taif. Namun, nabi meolak tawaran tersebut. Beliau berkata “biarkanlah mereka. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Berilah mereka petunjuk ya Allah. Semoga mereka menyembah Allah dsn tifak menyekutukan-Nya dengan apapun”.

     E.     Pemboikotan

Kegagalan masyarakat kafir Quraisy dalam membujuk Nabi Muhammad saw untuk meninggalkan dakwahnya justru memperkuat posisi umat Islam di kota Mekkah. Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum kafir Quraisy. Mereka mencoba menempuh cara-cara baru, yaitu melumpuhkan kekuatan Nabi Muhammad Saw yang bersandar pada perlindungan keluarga Bani Hasyim. Caranya adalah memboikot mereka dengan memutuskan segala bentuk hubungan dengan Bani Hasyim. Persetujuan itu dibuat dalam bentuk piagam dan ditandatangani bersama serta disimpan di dalam Ka’bah. Pemboikotan ini berlangsung selama lebih kurang tiga tahun, yang dimulai pada bulan Muharram tahun ketujuh kenabian, bertepatan dengan tahun 616 M. Di anatar isi piagam pemboikotan ini adalah sebagai berikut :
·         Mereka tidak akan menikahi orang-orang Islam
·         Mereka tidak akan menerima permintaan nikah dari orang-orang Islam
·         Mereka tidak akan berjual beli apa saja dengan orang-orang Islam
·         Mereka tidak akan berbicara dan tidak akan menjenguk orang-orang Islam yang sakit
·   Mereka tidak akan menerima permintaan damai dengan orang-orang Islam, sehingga mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.
Akibat pemboikotan tersebut, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang tiada bandingnya. Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy merasa iba dengan penderitaan yang dialami Bani Hasyim dan umat Islam. Akhirnya mereka merobek isi piagam tersebut dan memusnahkannya. Dengan perobekan itu, otomatis pemnboikotan itu berakhir.  F. Tahun kesedihan dan Isra Mi’raj
Setelah pemboikotan berakhir, yaitu tahun kesepuluh kenabian Muhammad SAW, paman nabi Abu Thalib dan istri nabi Khadijah meninggal dunia. Padahal mereka berdua adalah pelindung dan penyokong dakwah nabi. Karena itu, nabi sangat bersedih. Walaupun demikian nabi tetap bersabar dan bertwakal, kemudiaan Allah menghibur nabi Muhammad dengan mengundang beliau melalui Isra Mi’raj. Isra adalah perjalanan nabi dari masjidil haram di Mekah ke masjidhil Aqsha di Palestina. Sesampainya di Masjidil Aqsha nabi melakukan shalat berjamaah bersama para rasul melalui alam arwah. Setelah itu, nabi dinaikan oleh Allah ke langit hingga sidratul muntaha. Disana nabi bertemu dengan Allah dan menerima perintah salat lima waktu.
Menjelang pagi telah kembali dan berada di Mekah, beliau menceritakan pengalaman Isra Mi’raj kepada penduduk Mekah. Mendengar cerita nabi, orang-orang kafir mencemooh beliau. Nabi dianggap sebagai pembual atau orang gila. Semua yang mendengarkan meminta nabi untuk membuktikan ucapannya. Nabi mempertanggungjawabkan ceritanya, beliau menerangkan tentang posisi Baitul Maqdis dan sekitarnya kepada orang-orang dengan jelas. Beliau juga meberikan kabar tentang rombongan dagang Quraisy yang sedang berada dalam perjalanan menuju pulang. Sebagian orang-orang kafir yang mendengarkan penjelasan nabi ada yang percaya dan ada yang tidak.
Selama lebih kurang 13 tahun, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekah, akan tetapi yang beriman di antara mereka hanya sebagian kecil saja. Mereka yang masih tetap pada kemusyrikan selalu mengganggu jalannya dakwah Islam dengan beragam cara, maka Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk hijrah ke Madinah.



Periode Madinah

       A.    Hijrah ke Yatsrib

Setelah mendapat perintah hijrah dari Allah SWT, Rasulullah menemui sahabatnya Abu Bakar agar mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan. Nabi juga menemui Ali dan meminta kepadanya agar tidur di kamarnya guna mengelabui musuh yang berencana membunuhnya. Senin malam Selasa itu, nabi ditemani Abu Bakar dalam perjalanan munuju Yastrib. Keduanya singgah di Gua Tsur, arah selatan Mekah untuk menghindar dari pengejaran orang kafir Quraisy. Mereka bersembunyi selama tiga malam dan putera putri Abu Bakar, Abdullah, Aisyah, dan Ama’ serta sahayanya Amir bin Fuhairah mengirim makanan setiap malam kepada mereka dan menyampaikan kabar pergunjingan orang Mekah tentang Rasulullah.
Pada malam ketiga, mereka keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan perjalanan menuju Yastrib bergerak ke arah barat menuju laut merah melewati jalan yang tidak biasa dilewati qabilah dagang ketika itu. Setelah tujuh hari dalam perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan abu Bakar sampai di Quba. Ketika di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar 10km dari Yastrib, nabi istirahat beberapa hari lamanya. Ia menginap di rumah Kalsum bin Hindun.
Dihalaman rumah ini, nabi membangun sebuah masjid untuk pertama kalinya dan dikenal dengan Masjid Quba. Tak lama kemudian Ali menggabungkan diri dengan nabi setelah menyelesaikan segala urusannya di Mekah. Pada hari Jumat 12 Rabiul Awwal 13 kenabian/ 24 September 622 M, nabi meninggalkan Quba. Ditengah perjalanan di perkampungan Bani Salim, nabi melaksanakan shalat jumat pertama di dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan menuju Yastrib dan disambut oleh Bani Najjar.
Peristiwa hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah merupakan kehendak dan perintah Allah Swt dengan tujuan agar penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menjadi lebih pesat lagi. Selama 13 tahun Rasulullah berdakwa ajaran Islam di mekkah, Nabi Muhammad telah banyak mengalami pertentangan dan permusuhan. Namun Madinah merupakan kota yang penduduknya lebih mudah menerima ajaran Rasulullah dari pada penduduk Mekkah. Masyarakat Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammmad dengan suka cita, orang-orang Madinah berbondong-bondong memeluk Islam. Oleh karena itu islam lebih cepat berkembang di madinah.

      B.     Pembentukan Sistem Sosial Kemasyarakatan

Peradaban atau kebudayaan pada masa Rasulullah Saw, yang paling dahsyat adalah perubahan social. Suatu perubahan mendasar dari masa kebobrokan moral menuju moralitas yang beradab. Dalam tulisan Ahmad Al-Husairy, diuraikan bahwa peradaban pada masa Nabi dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh Muhammad di bawah bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut.

       -          Pembangunan Masjid Nabawi

Dikisahkan bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti disuatu tempat maka Rasulullah memerintahkan agar di tempat itu dibangun sebuah masjid. Rasulullah ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan batu-batu masjid itu dengan tangannya sendiri. Saat itu, kiblat dihadapkan ke Baitul Maqdis. Tiang masjid terbuat dari batang kurma, sedangkan atapnya dibuat dari pelepah daun kurma. Adapun kamar-kamar istri beliau dibuat di samping masjid. Tatkala pembangunan selesai, Rasulullah memasuki pernikahan dengan Aisyah pada bulan Syawal. Sejak saat itulah, Yastrib dikenal dengan Madinatur Rasul atau Madinah Al-Munawwarah. Kaum muslimin melakukan berbagai aktivitasnya di dalam masjid ini, baik beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupun perayaan-perayaan. Tempat ini menjadi factor yang mempersatukan mereka.
      -         Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar.
Dalam Negara islam yang baru dibangun itu, Nabi meletakan dasar-dasarnya untuk menata kehidupan sosial dan politik. Dikukuhkannya ikatan persaudaraan (UkhwahIslamiyah) antara golongan Anshar dan Muhajirin, dan mempersatukan suku Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan dan bersaing. Ikatan persaudaraan Anshar dan Muhajirin melebihi ikatan persaudaraan karena pertalian darah, sebab ikatannya berdasar iman. Terbukti apa yang dimiliki Anshar disediakan penuh untuk saudaranya Muhajirin. Rasulullah mempersaudarakan di antara kaum muslimin. Mereka kemudian membagikan rumah yang mereka miliki, bahkan juga istri-istri dan harta mereka. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat daripada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan. Dengan persaudaraan ini, Rasulullah telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.
      -          Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan non Muslimin
Di Madinah, ada tiga golongan manusia, yaitu kaum muslimin, orang-orang arab, serta kaum non muslim, dan orang-orang yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa’). Rasulullah melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah keamanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu dan toleransi diantara golongan tersebut.
      -          Peletakan Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial
Islam adalah agama dan sudah sepantasnya jika di dalam negara diletakkan dasar-dasar Islam maka turunlah ayat-ayat Alquran pada periode ini untuk membangun legalitas dari sisi- sisi tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dengan perkataan dan tindakannya. Hidupla kota Madinah dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan nilai-nilai utama. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh, ada solidaritas yang erat diantara anggota masyarakatnya. Dengan demikian bahwa inilah masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah dengan asas-asasnya yang abadi.
Bidang Politik, untuk menyelaraskan hubungan antara tiga kelompok itu, Nabi Saw mengadakan perjanjian dalam piagam yang disebut Konstitusi Madinah. Piagam ini berlaku bagi seluruh pendudukan Yatsrib, baik orang muslim maupun non muslim (Yahudi). Piagam inilah yang oleh Ibnu Hasyim disebut sebagai Undang-undang Dasar Negara Islam (DaulahIslamiyah) yang isinya anatara lain: Pertama, Semua kelompok yang mendatangani piagam merupakan suatu bangsa. Kedua, bila salah satu kelompok diserang musuh, maka kelompok lain wajib untuk membelanya. Ketiga, masing-masing kelompok tidak dibenarkan membuat perjanjian dalam bentuk apapun dengan orang kafir Quraisy. Keempat, masing-masing kelompok bebas menjalankan ajaran agamanya tanpa campur tangan kelompok lain. Kelima, kewajiban penduduk Madinah baik kaum Muslimin, non-Muslim ataupun bangsa Yahudi saling bantu--membantu moril dan materil. Keenam, Nabi Muhammad adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah dan dia menyelesaikan masalah yang timbul anatar kelompok.
Berdasarkan konstitusi diatas, dapat diketahui bahwa nabi telah membentuk Negara Islam di Madinah dan Rasulullah menjadi kepala pemerintahannya yang mempunyai otoritas untuk menyelesaikan segala masalah yang timbul berdasarkan konstitusi. Oleh karena itu di Madinah, Nabi Muhammad mempunyai kedudukan bukan saja sebagai Rasul tetapi juga sebagai kepala negara.
Pesatnya perkembangan Islam di Madinah, mendorong pemimpin Quraisy Mekah dan musuh-musuh Islam lainnya meningkatkan permusuhan mereka terhadap Islam. Untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan dari musuh, Nabi sebagai kepala Negara mengatur siasat dan membentuk pasukan perang. Umat Islam pun pada tahun ke-2 Hijriah telah diizinkan berperang dengan dua alasan,yaitu untuk memperthankan diri dan melindungi hak miliknya dan menjaga keselamatan dalam penyebaran Islam dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.

      C.    Perang Badar

Perang ini terjadi pada bulan Ramadhan 2 H(624 M), di dekat sebuah sumur milik Badar. Sebab utamanya adalah untuk memenuhi tekad kafir Quraisy membunuh nabi yang berhasil meloloskan diri ke Madinah dan menghukum orang yang melindunginya. Sebab secara khusus, karena adanya berita lewat mata-mata bahwa kabilah dagang yang dipimpin Abu Sofyan yang kembali dari Syam akan dicegat oleh umat Islam di Madinah, sehingga Abu Sofyan mengambil jalan lain hingga selamat sampai di Mekah.
Dalam perang ini, pasukan kaum  muslimin sebanyak 314 orang berhasil mengalahkan kaum Quraisy dengan pasukan 1000 orang di bawah pimpinan Abu Jahal. Dipihak Islam gugur 14 orang dan di pihak musuh gugur 70 orang termasuk Abu Jahal. Perang ini sanagat menentukan bagi umat Islam, bantuan Allah datang dengan menurunkan malaikat-malaikat(Surah Ali-Imran ayat 122, Al-Anfal ayat 9-12, 17 dan 43-44). 

      D.    Perang Uhud

Perang uhud terjadi pada tahun 3 H(625 M), penyebabnya karena kekalahan kaum Quraisy dalam perang Badar merupakan pukulan berat, mereka bersumpah akan melakukan pembalasan. Pemimpin Abu Sofyan memobilisasi 3000 prajurit dan pasukan Nabi sebanyak 700 pasukan. Dalam perang ini, pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan karena adanya penghianatan dan prajurit Islam memungut harta rampasan perang tanpa menghiraukan gerakan musuh.

      E.     Perang Ahzab/Khandaq

Perang Ahzab terjadi pada bulan Syawal 5 H(627 M) di pihak musuh membentuk pasukan gabungan yang terdiri dari orang-orang Quraisy, suku Yahudi yang mengungsi ke Khaibar, dan beberapa suku arab lainnya. Mereka berjumlah 10.000 tentara di bawah pimpinan Abu Sofyan. Menghadapi pasukan sebanyak itu, nabi memutuskan untuk bertahan. Setelah mendengar usul Salman Al-Farisi agar umat Islam bertahan dengan menggali parit (Khandaq) terutama dibagian utara kota. Itulah sebabnya perang ini selain disebut perang Ahzab(pasukan sekutu) juga perang Khandaq(parit). Taktik nabi itu membawa hasil, pasukan musuh tidak dapat menyebrangi parit. Namun, mereka mengepung Madinah dengan mendirikan kemah-kemah di luar parit hamper sebulan lamanya. Dalam masa kritis itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizah di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad berkhianat. Karena, mereka yang ditugasi nabi mempertahankan garis belakang bergabung dengan Yahudi akan memukul umat Islam hal itu membuat umat Islam semakin terjepit.
Apalagi mereka mengalami kesulitan yang amat dahsyat, menderita kelaparan, sehingga terpaksa mengikatkan batu ke perut mereka. Namun dalam kesulitan yang sempat menggoncangkan jiwa mereka itu, pertolongan Allah datang. Angin dan badai yang amat kencang turun merusak dan menerbangkan kemah-kemah mereka, dan menebarkan debu yang membuat mereka susah melihat. Mereka terpaksa kembali ke negeri masing-masing tanpa hasil. Sementara itu, penghianat—penghianat Yahudi Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati sebanyak 700 orang.

      F.     Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian hudaibiyah pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan nabi memimpin 1000 kaum muslimin berangkat ke Mekah untuk melakukan ibadah umrah. Sebelum tiba, mereka berkemah di Hudaibiyah(beberapa kilometer dari Mekah). Penduduk Mekah tidak mengizinkan mereka masuk kota apapun alasannya. Mereka mengutus Suhail bin Amr menemui nabi dan meminta agar umrah ditunda tahun depan. Permintaan itu diterima nabi, akhirnya diadakanlah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang isinya :
           Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun ini, tetapi ditunda sampai tahun depan.
-          Orang kafir Mekah yang ingin masuk Islam tanpa izin walinya harus ditolak umat Islam
-          Orang Islam yang ingin kembali ke Mekah(murtad) tidak boleh ditolak orang Quraisy
-          Gencatan senjata antara kedua belah pihak selama 10 tahun.

      G.    Penaklukan kota Mekah

Dua tahun setelah terjadi perjanjian Hudaibiyah, ternyata dilanggar oleh kaum Quraisy. Pada tahun 8 H mereka membantu sekutunya Bani Bakr yang berperang dengan Bani Khuza’ah sekutu umat Islam. Nabi menegur Abu Sofyan tentang bantuan yang mereka berikan kepada Bani BAkr. Dijawab Abu Sofyan bahwa perjanjian Hudaibiyah telah mereka batalkan. Oleh karena mereka telah membatalkan perjanjian secara sepihak, maka nabi bersama 10.000 pasukan bertolak ke Mekah untuk melawan mereka. Menjelang sampai di Mekah pasukan Islam berkemah di pinggiran kota Mekah. Abu Sofyan, pemimpin Qurasiy dan anaknya Muawiyah menyatakan diri masuk Islam.
Dengan demikian pemimpin-pemimpin Quraisy sudah semuanya masuk Islam menjelang penaklukan kota Mekah, maka pasukan Islam memasuki kota mekah tanpa perlawanan sama sekali.Berhala-berhala yang selama ini ada di Ka’bah berjumlah 360 mereka hancurkan . Setelah itu nabi berkhutbah menjanjikan ampunan Tuhan terhadap kafir Quraisy. Kemudian mereka dating berbondong—bondong memeluk agama Islam. Dengan takluknya kota Mekah, maka patahlah sudah perlawanan orang Quraisy terhadap orang Islam sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Nashr. 

      H.    Haji Wada’

Setelah tercipta ketenangan di seluruh jazirah Arab, Rasulullah bermaksud menunaikan haji ke Baitullah. Pada tanggal 25 Dzu al-Qa’dah 10 H, beliau bersama-sama dengan sekitar 100.000 sahabatnya berangkat meninggalkan Madinah menuju Mekah. Pada tanggal 8 Dzu al-Hijjah yang disebut hari Tarwiyah Rasulullah bersama rombongannya berangkat menuju Mina dan pada waktu fajar hari berikutnya mereka berangkat ke Arafah. Tepat tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat penting, yang dikenal dengan khuthbah al-wada’I (pidato perpisahan).
Beliau menyampaikan amanat dari atas punggung unta dan meminta Tabi’ah ibn Umayyah ibn Khalaf untuk mengulang dengan keras setiap kalimat yang beliau ucapkan. Pada setiap kalimat yang beliau ucapkan, haus didengar oleh setiap orang dan wajib disampaikan kepada orang-orang yang berada di tempat yang jauh. Pidato Rasulullah itu amat penting, karena mengandung pesan yang amat berharga untuk pedoman hidup manusia, baik yang berkaitan dengan hubungan antar manusia maupun hubungan manusia dengan Penciptanya.

      I.       Nabi Wafat

Tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji, Rasulullah mendertia sakit selama 14 hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan beliau mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H, Rasulullah mengembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun di rumah Aisyah.


KESIMPULAN

Pada tanggal 17 Ramadhan 611 M, Allah mengutus Malaikat Jibril kehadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surah Al-A’laq ayat 1-5. Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira. Pada malam ke 40 pada saat Nabi berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba beliau mendengar suara “Ya Muhammad,engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu, beliau segera kembali kerumah dan menyuruh Khadijah menyelimutinya, suara tadi terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat. Jibril mendatangi nya dan turunlah wahyu yang kedua yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7. Setelah menerima wahyu yang kedua ini Muhammad bangkit lalu berkata kepada isterinya, bahwa Jibril telah menyampaikan perintah Tuhan agar beliau memberi peringatan kepada umat manusia, dan mengajak mereka supaya beribadah dan patuh hanya kepada-Nya. Wahyu yang kedua ini menandai penobatan Muhammad sebagai Rasulullah. Rasulullah memulai dakwah di mekah secara sembunyi-sembunyi kemudian terang-terangan.
Peristiwa hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah merupakan kehendak dan perintah Allah Swt dengan tujuan agar penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menjadi lebih pesat lagi. Selama 13 tahun Rasulullah berdakwa ajaran Islam di mekkah, Nabi Muhammad telah banyak mengalami pertentangan dan permusuhan. Namun Madinah merupakan kota yang penduduknya lebih mudah menerima ajaran Rasulullah dari pada penduduk Mekkah. Masyarakat Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammmad dengan suka cita, orang-orang Madinah berbondong-bondong memeluk Islam. Oleh karena itu islam lebih cepat berkembang di madinah.
Pada tanggal 25 Dzu al-Qa’dah 10 H, beliau bersama-sama dengan sekitar 100.000 sahabatnya berangkat meninggalkan Madinah menuju Mekah. Pada tanggal 8 Dzu al-Hijjah yang disebut hari Tarwiyah Rasulullah bersama rombongannya berangkat menuju Mina dan pada waktu fajar hari berikutnya mereka berangkat ke Arafah. Tepat tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat penting, yang dikenal dengan khuthbah al-wada’I (pidato perpisahan).
Tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji, Rasulullah mendertia sakit selama 14 hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan beliau mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H, Rasulullah mengembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun di rumah Aisyah.


DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli. Sejarah Peradaban Islam. 2017. Tangerang : UWAN
Latief,M Sanusi. Sejarah dan kebudayaan Islam 2. 2003. Jakarta : PT. Pustaka Al Husna Baru
Yatrim,Badri. Sejarah Peradaban Islam. 2007. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Terj. Mukhtar Yahya, dkk. Jilid I. 1994. Jakarta: Pustaka al-Husna

Comments